Epilepsi Bisa Sembuh

Epilepsi bukan Penyakit, 85% Bisa Sembuh

JAKARTA (Media):

Epilepsi atau ayan bukanlah penyakit, melainkan suatu kondisi yang timbul akibat munculnya impuls listrik otak (seluruh bagian otak) yang bekerja tidak semestinya. Gejala klinisnya sangat kompleks, tetapi proses abnormal listrik sel-sel otak itu bisa terlihat pada Elektro Encephalografi (alat rekam listrik otak).

Hal tersebut ditegaskan Dr Nizar Yamanie, spesialis saraf RSUPN Cipto Mangunkusumo kepada Media di Jakarta beberapa waktu lalu.Pada keadaan normal, dipaparkan Nizar, listrik otak akibat reaksi yang timbul adalah semua fungsi tubuh normal, seperti fungsi motorik, sensorik, fisik, dan organ-organ autonom.

”Ketika serangan epilepsi datang, penderita tersebut memancarkan listrik berlebih di otaknya yang mengakibatkan berbagai bentuk serangan. Misalnya, mendadak jatuh, kejang-kejang, kehilangan kontrol pada fungsi kencing atau buang air, mendadak mencium bau aneh, mendengar suara aneh, terjadi halusinasi atau ilusi, dan melihat kilatan-kilatan cahaya,” urai ketua yayasan Epilepsi Indonesia ini.

Penyebab epilepsi sendiri, menurut Nizar, terbagi dua kelompok, yakni idiopatik dan symtomatic. Idiopatik merupakan golongan yang belum atau tidak diketahui penyebabnya.

”Termasuk dalam bagian ini adalah yang bersifat diturunkan atau keturunan (genetik). Dari golongan idiopatik sebagian besar tidak permanen, sehingga pada usia tertentu akan sembuh total. Saat ini berkembang penelitian tentang pengobatan genetik,” tegas Nizar.

Sebaliknya pada penyebab symtomatic, dijelaskan Nizar, adalah golongan penderita epilepsi yang diketahui penyebabnya, seperti kelainan metabolik, trauma kepala, tumor kepala, stroke, kelainan pembuluh darah otak, infeksi otak, kelainan otak bawaan lahir atau pada perkembangannya, keracunan otak seperti logam timah dan penyakit-penyakit lain semisal Lupus Erythematosus

”Ada yang mengatakan, jika tersentuh busa atau lidah penderita epilepsi yang sedang terserang akan tertular. Padahal tidak, penyebabnya adalah seperti yang saya sampaikan di atas,” tegasnya.

Prevalensi penderita epilepsi di Eropa yang berpenduduk 810 juta orang, menurut Nizar, terjadi serangan satu atau lebih dari sepanjang hidup orang Eropa terdapat 16 sampai 40 juta orang. Kasus insiden baru antara 40 sampai 70 per 100 ribu penduduk terdapat 0,3 sampai 0,6 juta orang menjadi epilepsi per tahunnya.

”Prevalensi di belahan Eropa baik kasus baru dan lama yang masih aktif per tahun ada 0,4 sampai 0,8 atau sebesar 3,2 sampai 6,5 juta orang,” ujarnya.

Untuk Amerika dengan jumlah penduduk lebih dari 200 juta orang, diketahui terjadi insiden epilepsi 30-50 orang per 100 ribu per tahunnya. Prevalensinya 5-8 orang per 1.000 orang per tahun atau 1,25 sampai 2 juta orang per tahunnya.

”Sayangnya, prevalensi di Indonesia belum diketahui datanya secara pasti dan akurat,” kata Nizar lagi.Tidak ter-cover-nya penderita epilepsi ini dirasakan Nizar, karena faktor ekonomi, sehingga tidak pergi/berobat ke dokter dan faktor sosial.”

Diperberat lagi dengan mitos atau stigma bagi penderita epilepsi. Mereka dikatakan kemasukan setan atau diguna-guna, sehingga enggan berobat ke dokter. Sakit mental atau idiot. Ada lagi yang mangatakan kalau penyebabnya karena keturunan. Padahal, persentasenya sangat kecil dan itu pun sebagian besar terjadi pada usia tertentu dan sembuh,” urai Nizar.

Epilepsi, ditegaskan Nizar, sesungguhnya dapat disembuhkan dengan obat-obat biasa. ”Dari seluruh penderita epilepsi hampir 85% sembuh total dan sisanya bisa terkontrol. Bahkan dalam persentase kecil operasi perlu dilakukan,” katanya.

Menurut Nizar, epilepsi merupakan kelainan kronik susunan saraf pusat tanpa membedakan umur, ras, agama, geografik, gender, dan status sosial.

”Julius Caesar, Napoleon Bonaparte, Vincen van Gogh, Thomas Edison, Leonardo da Vinci adalah sedikit contoh orang-orang besar yang membuat sejarah yang menderita epilepsi,” tegas Nizar.

Kematian pada penderita, yakin Nizar, bukan disebabkan semata-mata oleh epilepsinya sendiri. Kecuali pada penderita (status epilepsi) dengan tipe kejang umum (terus-menerus) .

”Kematian lebih disebabkan karena benturan kepala akibat pendarahan otak atau diperburuk oleh penyakit lain, seperti jantung atau organ pernapasan, serta sebab-sebab nonmedis, semisal putus asa, sehingga melakukan bunuh diri,” urainya.

Menangani Epilepsi

* Epilepsi bukan penyakit, tetapi suatu kondisi akibat timbulnya impuls listrik otak yang tidak bekerja normal.

* Pertolongan pertama:
Pada waktu serangan penderita tidak melukai dirinya;

  • jangan memaksa dengan kekuatan untuk menahan gerak penderita, kecuali pada tempat berbahaya;
  • letakkan di tempat datar jika serangan pada posisi duduk atau berdiri;
  • lepaskan semua yang mengganggu di leher;
  • jauhkan semua benda keras atau berbahaya dari penderita;
  • posisikan pada satu sisi mulut/kepala penderita untuk mencegah tertelannya ludah atau sesuatu di mulut;
  • letakkan bantalan lunak pada kepala dan leher;
  • jangan masukkan sesuatu baik makanan/minuman/ obat ke mulut;
  • setelah serangan biasanya lemas, perlu dibantu untuk pulang, tetapi jika tidur biarkan sampai bangun.

sumber: http://www.mail-archive.com/ayahbunda-online@yahoogroups.com/msg06250.html

39 comments

  • mira

    ayah saya menderita epilepsi sejak berumur krg lebih 15 thn.
    apakah epilepsi bisa menurun pada faktor genetiknya dok ? lalu, bagaimana pencegahan dan pengobatannya, mohon jawabannya dok, terimakasih

  • ROY WIBISONO

    pagi semua
    sebelumnya saat ini saya berumur 36 btahun dan telah berkeluarga
    sewaktu SD kelas 3 saya pernah mengalami JATUH DARI atas genteng menimpa pompa baja (jadi kepala belakang saya terbentur dg Pompa Baja) setelah SMP tepatnya kelas dua saya mengalami kedutan mata sebelah kanan dan frekkuensinya jarang (belum mengalami kejang\serangan)
    setelah itu saya dibawa kerumah sakit Ciptomangunkusumo Jakarta hasil dokter mengatakan saya terkena EPILEPSI dengan jenis sy lupa diberikanlah obat obatan salah satunya yg smp sekartang sy konsumsi TEGRETOL namun apa daya bukannya sembuh malah terjadi serangan epilepsi dari dr terkenal almarhum dr Suvatcara witoelar sd dr Salim haris 9yg merawat almarhum artis Sukma ayu) hasilnya nol besar lantas kebetulan sewaktu SMU kelas dua sy mengikuti tugas orangtua sy di Republic Ceko pengobatan dialihkan disana ditambahkan obat tsb yg bernama Diazepam (obat jatuh\benturan) alhamdulilah dari sehari tiga kali minum obat dg sendirinya saya melepaskan obat hanya pagi aja sy minum obat tetapi sy khawatir efek minum obat tsb berdampak tidak baik nantinya bagi sya dan stelah dari Ceko sy tidak pernah mengalami serangan hingga menikah ini dan berkeluargha rasanya sy ingin ditingkatn utuk dioperasi bgmn ya
    mohon kejelassn para rekan yg mengetahuinya dan juga para dokter beserta bianya
    ooo yaaa kl yang ingin mengetahui sy lewat tlp khusus EPILEPSI karena jatuh
    mungkin sy bisa bantu memberikan saran
    no hp sy di 08889999905
    mksh

  • edi

    Bpk/ ibu saya punya kasus yang berkaitan dengan istri saya. istri saya mengalami kejang yg kuat sampai setiap kali kejang pasti bibirnya berdarah tergigit giginya namun setiap kejadian kejang hanya waktu tidur malam hari. peristiwa ini terjadi setahun terakhir sebelumnya tidak pernah mengalami hal tersebut. apakah hal tersebut termasuk kategori epilepsi ? mohon jawabannya dan solusinya. terima kasih

    • rasyid bdg

      pak edi coba konsultasikan dengan dokter bagian syarap,itu saran saya semoga cepat sembuh…amin.apapun keputusan dari dokter kita pasrahkan aja kepada yang memberi kehidupan ini….tks

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *